tegalyoso.smartvillage.co.id (30-09-2020) Mengibarkan bendera merah putih tersebut sebagai bentuk keprihatinan masyarakat Indonesia atas peristiwa tragis yang melukai segenap bangsa Indonesia yakni kebiadaban Partai Komunis Indonesia (PKI) membantai warga negara.

“Masyarakat Desa Tegal Yoso diserukan agar pada hari Rabu tanggal 30 September untuk mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang” Pesan singkat Kepala Desa Tegal Yoso (M. Yani) melalui WhatsApp di Group Pemdes Tegal Yoso, kepada para Kepala Dusun “dan agar kembali menaikkan bendera setiang penuh di hari Kamis 1 Oktober 2020 nanti”.

Ironisnya ternyata masih ada salah satu warga yang bertanya, “sebenarnya kenapa sih harus ada bendera setengah tiang di 30 September?”

Cerita Pengibaran Bendera Kebangsaan (setengah tiang) bermula dari abad ke-17. Kala itu, pelaut-pelaut Inggris sedang berlayar (dimana…? ya di laut doong..)

Bendera setengah tiang atau disebut juga dengan istilah half-mast atau half-staff muncul pertama kali pada tahun 1612. Kapten kapal Inggris Heart’s Ease meninggal dunia dalam perjalanannya ke Kanada. Saat itu, kapal akhirnya kembali ke London. Untuk menunjukkan perasaan sedih dan berkabung, awak kapal yang lain memutuskan untuk mengibarkan bendera kebangsaan mereka, yaitu The Union Jack bendera kebangsaan Inggris.

Pada tanggal 30 September, bangsa Indonesia mengingat kembali tragedi berdarah yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Peristiwa tersebut tepatnya terjadi pada tanggal 30 September 1965 di Jakarta dan Yogyakarta. Saat itu terjadi pemberontakan PKI dengan menculik beberapa TNI Angakatn Darat. Kemudian mereka dibantai secara kejam dan dibuang di sebuah tempat yang kini dikenal dengan nama Monumen Lubang Buaya.

Gugurnya para perwira TNI tersebut merupakan wujud perlawanan bangsa terhadap kekejaman PKI. Pantas jika mereka mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Revolusi atau Pahlawan Nasional.

“Apakah Masyarakat benar-benar sudah mulai lupa terhadap tragedi berdarah G30S/PKI..?” tanya Sekretaris Desa Tegal Yoso (Eksas Yulianto) kepada Koresponden tegalyoso.smartvillage.co.id “Apakah tragedi G30S/PKI adalah kejadian biasa?” lanjutnya.

Pengibaran bendera kebangsaan setengah tiang setiap tanggal 30 September, pada hakekatnya kita sedang memberikan pembelajaran kepada masyarakat dan generasi penerus bangsa ini untuk mengingat sejarah kelam bangsa, untuk jangan sampai peristiwa yang memilukan ini terulang kembali.

 

Berikut nama-nama jenderal korban G30S:

  • Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani.
  • Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono.
  • Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan.
  • Mayor Jenderal Siswondo Parman.
  • Mayor Jenderal Raden Soeprapto.
  • Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo.
  • Lettu Pierre Andreas Tendean (ajudan Jenderal AH Nasution)